Laman

Minggu, 17 Juni 2012

Pengaruh Krisis Hutang Yunani, Portugal, dan Irlandia Terhadap Melemahnya Nilai Mata Uang EURO


Kerangka Dasar Teori
Tulisan ini menitik beratkan pembahasan dengan menggunakan Teori Interdependensia dengan perspektif liberalisme. Perspektif liberalisme dipelopori oleh Adam smith dan David Ricardo. Perspektif liberalisme mengajukan argument bahwa cara paling efektif untuk meningkatkan kekayaan nasional adalah justru dengan membiarkan pertukaran antar individu dalam ekonomi domestik dan internasional.[1] Dalam perekonomian Uni Eropa sendiri, perspektif liberalisme ini terlihat jelas dalam sistem single market yang mereka anut, dengan inti dari pasar tunggal tersebut adalah "four freedoms", atau penghapusan hambatan untuk pergerakan bebas dari people, money, goods, dan services. Dan yang paling jelas terlihat dengan liberalisme yang mengakar pada sistem perekonomian Uni Eropa bahwa, setiap negara yang selayaknya memiliki kekuatan otonomi dalam menatur aturan perekonomiannya, lebih memilih melepaskan kekuasaan itu dan memberikannya pada organisasi yang menaungi mereka dan mengukuhkan mereka sebagai kesatuan regional yaitu Uni Eropa.
Teori interdependensia sendiri yang menjadi acuan dalam paper ini adalah teori yang dikemukakan oleh Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye yang di mana teori ini melihat keadaan dunia sudah membaik dengan adanya kerjasama antarnegara dan saling ketergantungan sehingga mampu menghindari perang.[2] Ketika suatu negara sudah merasa saling tergantung satu sama lain, maka negara-negara yang saling tergantung satu sama lain tersebut akan selalu menjaga stabilitas dan harmonisasi hubungan diantara keduanya. Karena ketika dalam hubungan tersebut terjadi suatu permasalahan, maka kedua negara akan mengalami hal yang dapat merugikan keduanya, karena terkait dan memberikan imbas satu sama lain.
Hubungan di antara negara-negara di kawasan Uni Eropa menunjukan sutau pola hubungan yang interdependensi. Saling tergantung satu sama lainnya. Kawasan Eropa yang terinterdependensi menjadi salah satu faktor penguat spillover effect mengenai krisis. Yunani yang menjadi pintu gerbang, akhirnya menyebar ke negara lain, karena sistem moneter Uni Eropa yang saing mengaitkan satu negara dan negara yang lain. Kekhawatiran akan spillover effect kepada negara-negara Eropa lain dibenarkan dengan konsep interdependensi. Melihat kondisi yang terjadi di Eropa mengakibatkan banyak investor yang mengalihkan pandangan investasinya keluar Eropa untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan otomatis akan memperburuk secara nyata perekonomian Eropa, karena banyak dana yang biasanya beredar di Eropa, kemudian berpindah ke tempat lain.

PEMBAHASAN

A.   Single Currency sebagai Solusi atau Problematika

Awal penggunaan mata uang Euro sebagai sistem single currency diharapkan dapat berfungsi meningkatkan perdagangan dan usaha perlindungan terhadap negara-negara Eropa dari kerugian hasil Dollar yang mendominasi sistem moneter internasional. Kehadiran Euro sebagai alat transaksi perdagangan di kawasan Eropa pun bagi negara-negara Uni Eropa diharapkan pula dapat mengurangi ketergantungan terhadap Dollar Amerika Serikat. Hal ini disebabkan peredaran Dollar Amerika Serikat tidak hanya di kawasan Eropa namun juga di dunia internasional.

Keberadaan Euro pun telah bergerak ke arah terbentuknya dominasi dalam pengaturan pasar dan sistem moneter. Oleh karena itu, mata uang Euro memiliki potensi kuat untuk berperan penting dalam sistem perekonomian global, terutama sebagai penguat sistem perekonomian di negara-negara Uni Eropa untuk dapat mengimbangi kekuatan perekonomian dari Amerika Serikat.
Mata uang Euro dapat menjadi ancaman bagi Dollar, hal ini tampak dengan adanya peningkatan cadangan devisa berupa Euro dari berbagai bank sentral yang ada di negara-negara Eropa. Diberlakukannya mata uang tunggal Euro, dalam jangka panjang akan memiliki dampak yang signifikan, di mana para investor dari negara lain pun yang memandang Euro sebagai mata uang yang lebih stabil dari pada Dollar, akhirnya akan lebih memilih Euro dalam traksaksi ekonomi berskala internasionalnya. Tidak hanya itu, Euro sebagai mata uang tunggal memudahkan negara-negara Uni Eropa dalam melaksanakan transaksinya tanpa harus memusingkan nilai tukar mata uang, dan juga didukung dengan sistem single market yang membebaskan peredaran uang, sehingga perekonomian Uni Eropa pun dapat lebih stabil dan berkembang pesat.
Peran Euro dalam perdagangan internasional pun mengalami peningkatan yang signifikan terlihat dengan peningkatan volum tren dari tahun ke tahun sejak berlakunya Euro dan pada tahun 2003 dengan suku bunga Euro ditetapkn menguat atas Dollar. Tetapi kemajuan yang melanda Euro sebagai solusi dalam menyatukan Eropa menjadi integrasi regional terbesar di dunia tidak terlepas dari guncangan krisis.
Berawal dari negara Eropa yaitu Yunani hingga merambat ke Portugal, Irlandia dan Spanyol yang diwarnai dengan kelesuan dan defisit anggaran dalam jumlah besar. Seiring dengan itu, nilai tukar mata uang Euro pun melemah di bandingkan mata uang lainnya. Di sisi lain, program penyelamatan ekonomi yang dilaksanakan dengan cara pengetatan ekonomi telah menimbulkan gejolak dan protes rakyat. Kemungkinan kegagalan Euro ini pun menunjukkan bahwa tidak ada mata uang kertas yang mampu mempertahankan daya belinya dalam jangka menengah apalagi dalam jangka panjang.[3]

B.   Krisis Hutang Yunani, Portugal, dan Irlandia

Krisis eropa merupakan bentuk krisis utang yang berasal dari Yunani, yang kemudian menjalar ke Irlandia dan Portugal serta menimbulkan efek domino ke beberapa negara Uni Eropa lainnya. Yunani jika dilihat dari kaca mata sejarah merupakan negara dengan peradaban yang sangat berkembang pesat tetapi saat ini ketika melihat Yunani maka yang didapati adalah sebuah negara dengan corruption perceptions index berada pada peringkat 71 dari 180 negara.[4]
Adanya ketidak jujuran pemerintah Yunani yang mengutak-atik nilai pertumbuhan ekonomi makronya pun merupakan awal jatuhnya perekonomian Yunani di mana pemerintah Yunani berusaha menutup-nutupi angka defisit negara yang disebabkan oleh banyaknya kasus penggelapan pajak, yang diperkirakan telah merugikan negara hingga US$ 20 milyar per tahun.
Dan pada awal tahun 2000-an, tidak ada yang memperhatikan fakta bahwa utang Yunani  sudah terlalu besar. Malah dari tahun 2000 hingga 2007, Yunani mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 4.2% per tahun, yang merupakan angka tertinggi di zona Eropa, hasil dari membanjirnya modal asing ke negara tersebut. Keadaan berbalik ketika pasca krisis global 2008 dimana negara-negara lain mulai bangkit dari resesi, dua dari sektor ekonomi utama Yunani yaitu sektor pariwisata dan perkapalan, justru mencatat penurunan pendapatan hingga 15%. Orang-orang pun mulai sadar bahwa mungkin ada yang salah dengan perekonomian Yunani.[5]
Di Irlandia sendiri sedang terbelit imbal hasil (yield) surat utang (obligasi) yang diterbitkan oleh pemerintah. Serta keadaan anggaran Negara yang mengalami defisit hingga sebesar 32 persen terhadap produk domestik bruto tercatat sebagai defisit anggaran terbesar di kawasan Eropa. Melihat fakta tersebut, sangat wajar kalau krisis Irlandia mulai menebar kekhawatiran global. Sebab posisi keuangan Irlandia yang tidak stabil tersebut berisiko tinggi terhadap gagal bayar obligasi yang diterbitkan pemerintah.[6]
Penyebab dari krisis ekonomi Irlandia pun diketahui akibat dari kerugian dalam usaha sektor property dan kegagalan dalam pengelolaan bank. Dana talangan sebesar 34,3  miliar Euro yang diberikan kepada bank yang salah urus seperti Anglo Irish Bank dan juga Allied Irish Bank (AIB) sebesar €1,8 miliar Euro hampir setara pendapatan pajak nasional Irlandia merupakan sebuah ironi bagi 5 juta rakyat Irlandia yang tengah menderita kesulitan ekonomi. Selain itu pemerintah juga telah mengeluarkan program "penyelamatan" yang disebut program NAMA (National Asset Management Agency).
Melalui program ini pemerintah akan membeli aset-aset 5 bank bermasalah terbesar di Irlandia. Ada dampak yang lebih hebat dari kombinasi krisis internasional dengan pemerintahan yang korup sebagaimana yang terjadi di Irlandia. Rakyat Irlandia hanya bisa melihat miliaran Euro yang dikumpulkan pemerintah dari pajak mereka menghilang tidak tahu kejelasannya. Rakyat Irlandia melihat bank perampok terbesar uang nasabah masyarakat mendapatkan dana bailout terbesar yang tidak pernah mereka bayangkan. Defisit anggaran negara tersebut tercatat 32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) mereka. Defisit anggaran tersebut tercatat sebagai defisit anggaran terbesar di kawasan Eropa. Hanya dalam tiga minggu, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun telah melonjak menjadi 9 persen dari sebelumnya hanya 6 persen.[7]
Adapun keadaan Portugal yang tidak jauh berbeda dengan keadaan Yunani yang terbelit hutang, mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi yang berefek terhadap kehidupan politik dan sosial di Portugal. Di lansir, akibat krisis hutang tersebut 90% pekerja gabungan dari pekerja kantor pos, rumah sakit, dan pengajar, melakukan pemogokan guna menentang perluasan langkah penghematan pemerintah di dalam anggaran ketat 2012 dengan tujuan membantu negeri itu membayar utangnya.
Selain Irlandia dan Portugal, kini perluasan krisis eropa telah menjalar ke Italia seiring melonjaknya tingkat imbal hasil surat utang pemerintah. Tingkat imbal hasil surat berharga tersebut melonjak hingga 7,502 persen, tertinggi sejak euro diperkenalkan pada tahun 1999. Mengakibatkan para investor terpaksa menjual surat-surat berharga Italia setelah kustodian Eropa menaikkan kolateral yang dibutuhkan untuk meminjam dengan surat utang itu. Investor pun semakin khawatir ketidakstabilan kondisi politik setelah mundurnya Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi bisa menyebabkan reformasi ekonomi tertunda.
Selain mengalami krisis ekonomi, Italia juga mengalami krisis politik Berlusconi mundur dari jabatan Perdana Menteri tidak lama setelah bertemu dengan Presiden Italia, Giorgio Napolitano, di Roma. Pengunduran diri Berlusconi bernasib sama dengan PM dibeberapa negara Eropa yang  sedang mengalami krisis, diakibatkan ketidakmampuan untuk mencari solusi terjadap krisis yang terjadi dan juga akibat tinggi tekanan secara politis dibirokrasi.[8]

C.   Pengaruh Krisis Hutang Yunani, Portugal, Dan Irlandia Terhadap Melemahnya Nilai Mata Uang Euro
Konsep Single Currency atau mata uang tunggal merupakan salah satu konsep  yang mengadopsi prinsip-prinsip dasar ekonomi Liberal, yang digunakan oleh sebagian anggota Uni Eropa. Hal tersebut bertujuan untuk efisiensi sehingga memudahkan perdagangan. Disamping itu UE terus mengembangkan kerjasama antara negara anggotanya khususnya kerjasama ekonomi, lalu membentuk single market yang bertujuan untuk memudahkan pergerakan barang, jasa, dan modal. Format ekonomi yang saling bergantung satu sama lain, menjadi konsekuensi tersendiri akan terkena badai masalah jika salah satu negara mengalami masalah ekonomi.[9]
Posisi tawar nilai mata uang Euro dengan adanya krisis di beberapa negara Eropa cukup  membuat khawatir negara anggota Euro Zone yang lainnya. Karena stabilitas mata uang kawasan (Euro) berhubungan fundamental dengan mata uang euro yang bergantung pada 16 negara anggotanya. Adapun sistem mata uang tunggal dalam konteks krisis Eropa saat ini seakan menjadi pisau bermata dua, dalam artian di satu sisi begitu menguntungkan dan menambah bargaining position negara Eropa. Namun pada satu sisi ke-tunggal-an mata uang ini penuh dengan celah yang berpotensi merugikan. Dengan masih terjadinya krisis yang berkepanjangan, demikian mempengaruhi niali mata uang Euro yang melemah 0,2% menjadi US$1,2539 pada pukul 9:47 waktu Tokyo dari penutupan kemarin di New york. Mata uang wilaya Eropa itu melemah 0,1% menjadi 99,90 yen, setelah naik 0,4% kemarin. Yen diperdagangakan pada 79,65 per dolar dari 79,63. Mata uang Jepang itu telah melemah 2,1% sejak 1 Juni dan kemarin melorot ke 79,80 per dolar, level terlemah sejak 25 Mei .Indeks dolar, yang digunakan IntercontinentalExchange Inc untuk mencatat kinerja dolar terhadap 6 mata uang negara partner dagang AS, menguat 0,2% menjadi 82,403. Indeks itu sempat menyentuh 81,911 pada 7 Juni, level terendah sejak 28 Mei. Indeks saham MSCI Asia Pacific turun 0,8%. (07/arh).[10]
Sistim keuangan negara di Eropa yang saling berkaitan satu sama lain menyebabkan mudahnya terjadi perpindahan masalah ekonomi dari satu negara dengan negara lainPola hubungan yang saling ketergantungan (interdependensi) digambarkan dari fenomena inilah yang dikemukakan oleh kaum liberal pada abad ke-20 ini lebih dekat dirasakan oleh masyarakat internasional.
Dalam hubungan internasional, efek domino pun dikenali sebagai fenomena perubahan berantai berdasarkan prinsip geo-politik dan geo-strategis. karena teori ini lahir dari konsideran geografis, maka obyeknya adalah negara-negara yang secara geografis berdekatan, misalnya terletak dalam satu kawasan.  pola perubahan dianalogikan seperti domino China (mahyong) yang berdiri tegak, dimana jika keping domino paling awal dijatuhkan, ia akan menimpa keping domino terdekat, dan proses ini akan berlanjut hingga ke keping domino terakhir.[11]
Domino effect mengenai krisis keuangan yang terjadi di kawasan Eropa yang di mulai dari Yunani dan menjalar pada negara-negara pinggiran (peripheral) Eropa, seperti Portugal, Irlandia, Italia, dan Spanyol, memang masih menyimpan banyak masalah. Lemahnya perekonomian negara Portugal dan Spanyol membuat rentan diserang krisis ekonomi. Kedua negara ini mengalami defisit fiskal yang besar. Banyak pihak khawatir satu demi satu negara tersebut runtuh secara financial terkena efek domino dari dari krisis keungan Irlandia dan mengkawatirkan negara-negara Eropa akan risiko sistemik yang dibawanya dapat menyeret Eropa dalam krisis yang makin parah.

D.   Peran KIEOs dalam Mengatasi Krisis di Yunani, Portugasl, dan Italia

Krisis yang terjadi di Yunani telah memaksa Uni Eropa dan IMF membantu dengan dana penyelamatan atau recovery sebesar 110 milyar euro.[12] Namun, efektivitas kebijakan Uni Eropa tersebut perlu kita ukur dari proses pembuatan kebijakan Uni Eropa sebagai sebuah entitas politik internasional dalam usaha pemberiaan bantuan kepada Yunani sebagai salah satu negara anggotanya. Baik itu melalui penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakannya yang kemudian William Dunn[13] menyebutnya sebagai lima siklus kebijakan (policy cycle).
Sejauh mana perjalanan pelaksanaan kebijakan Uni Eropa, dalam hal ini secara khusus adalah apakah terjadi kendala dan seberapa besar kendala tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur efektivitas kebijakan bantuan Uni Eropa dalam pelaksanaannya. Dengan adanya krisis Yunani dan penanganannya oleh Uni Eropa, dapat dijelaskan bahwa bantuan Uni Eropa dalam usaha perbaikan ekonomi politik Yunani dianggap tidak efektif dilihat dari formulasi dan implementasi kebijakan.
Dari siklus formulasi kebijakan mengenai bantuan Uni Eropa dengan pemberian dana yang salah satunya diberikan oleh IMF ternyata tidak efektif karena mendapatkan pertentangan dari anggota Uni Eropa dan masyarakat Yunani sendiri yang notabene merupakan negara yang ingin dibantu. Terjadinya penolakan bantuan yang diberikan oleh IMF tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakefektifan upaya pemberian bantuan kepada Yunani.
Krisis keuangan yang tidak hanya melanda Yunani tetapi juga Irlandia, Portugal, Spanyol, dan negara-negara Uni Eropa lainnya telah bermetamorfosa dari krisis keuangan semata menjadi krisis sistem atau rezim moneter. Alhasil, nilai mata uang Euro pun turun. Sebagai akibatnya Uni Eropa kebingungan menghadapi krisis yang melandanya. Pada akhirnya Uni Eropa harus mengadakan beragam formula kebijakan dalam menangani masalah Yunani dan negara Uni Eropa lainnya. Bantuan yang khususnya diberikan kepada Yunani menjadi sangat penting mengingat negara-negara lain juga akan terimbas efeknya. Hal inilah yang menyebabkan bantuan IMF menjadi pertimbangan meskipun sempat mendapatkan pertentangan.
Akhirnya, Uni Eropa berkomitmen untuk menghadapi para spekulan di pasar keuangan di saat mereka memproses kesepakatan senilai 600 milyar Euro untuk menjaga krisis hutang Yunani agar tidak menyebar ke negara-negara Uni Eropa yang lain. Loan guarantee atau tanggungan hutang untuk pinjaman dari negara-negara zona Euro senilai 440 milyar Euro berasal dari stabilization fund dan 100 milyar Euro dari pinjaman IMF. Uni Eropa berharap bailout (bantuan tanggungan) ini berhasil menangani krisis. IMF sendiri telah menyetujui pinjaman 30 milyar Euro, sehingga total dana yang dikumpulkan untuk bailout Yunani mencapai 110 milyar Euro.[14]
Dana pinjaman IMF yang telah disetujui oleh Uni Eropa sebenarnya tidak dapat langsung dicairkan karena sama halnya dengan Uni Eropa, IMF pun memberikan syarat yang harus dipenuhi oleh Yunani. Sedangkan ketika kebijakan tersebut dilaksanakan, pemerintah Yunani pun sebenarnya masih diragukan oleh Uni Eropa dan IMF sebagai pemberi bantuan. Hal ini dikarenakan perilaku buruk pemerintahan Yunani termasuk korupsi dan hutang yang berkepanjangan oleh pemerintah, pengusaha, dan pejabat terkait. Untuk itu, parlemen Yunani meluluskan usulan pemerintah untuk memangkas pengeluaran sekaligus menaikkan pajak agar mendapat bantuan keuangan dari IMF dan Uni Eropa.
Namun, masyarakat Yunani sendiri menentang program penghematan pemerintah dan pinjaman dana dari Uni Eropa dan IMF yang dilaksanakan oleh Perdana Menteri Yunani, Papendreou. Akibtanya, bantuan dari Uni Eropa dan IMF dirasa sangat memberatkan masyarakat karena mereka dipaksa untuk membayar hutang-hutang negara dengan berbagai pemotongan dan penghematan, padahal rakyat sudah sengsara.
Sementara itu, Bank Dunia juga memiliki peran tersendiri. Tak dapat dipungkiri, Bank Dunia memiliki ikatan dan hubungan yang sangat erat dengan IMF. Bank Dunia yang sejak awal berdirinya “didominasi” Amerika Serikat memiliki relasi yang bagus dengan IMF yang “didominsai” oleh negara-negara Eropa. Sebelas presiden Bank Dunia secara turun temurun berasal dari AS karena dukungan Eropa yang juga dijatahi jabatan Ketua IMF. Selain itu, AS sebagai kreditor terbesar yang juga menyuplai dana terbesar yaitu 16% dari total kas Bank Dunia menjadi alasan mengapa posisi AS begitu kuat di lembaga keuangan yang didirikan untuk “mengentaskan kemiskinan dunia itu.”[15]
Dari situ kita dapat ambil kesimpulan bahwa secara otomatis Bank Dunia yang merupakan “representasi” AS akan membantu krisis yang terjadi di Uni Eropa. Hubungan yang erat diantara Bank Dunia (AS), IMF, dan Eropa menjadikan Bank Dunia dengan leluasa memberikan bantuan kepada Uni Eropa. Bank Dunia memulainya dengan memonitor dan mengobservasi situasi yang terjadi dan dampaknya terhadap negara lain.



[1]  Mochtar Mas’oed, Ekonomi-Politik Internasional dan Pembangunan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008, hal. 41
[2] Aziz Fahri, Sejumlah Pandangan Tentang Organisasi Internasional, http://azizfahri.blogspot.com/2011/04/sejumlah-pandangan-tentang-organisasi.html.
[3] Muhaimin Iqbal. Kegagalan Euro, Kegagalan Uang Kertas. http://www.arthadinar.com/2011/07/kegagalan-euro-kegagalan-uang-kertas_4119.html.
[4] ……, Krisis Yunani, Penyebab dan Implikasinya, http://ferrylaks.wordpress.com/2011/10/28/krisis-yunani-penyebab-dan-implikasinya/.
[5] The Children Indonesia, Krisis Utang Yunani, Penyebab Krisis Eropa, http://top.cengkrama.com/2011/10/new-post-krisis-utang-yunani-penyebab.html.
[6] …… Krisis Irlandia, Bibit Krisis Baru Global. http://suar.okezone.com/read/2010/11/18/279/394339/krisis-irlandia-bibit-krisis-baru-global.
[7] Andicha Permana. Dampak Krisi Keuangan Irlandia Terhadap Stabilitas Ekonomi Uni Eropa 2012. http://www.scribd.com/doc/51282452/bab-I.
[8] Bayu galih. Krisis Eropa, Pemimpin Politik Bertumbangan. http://fokus.vivanews.com/news/read/263764-berlusconi--korban-baru-krisis-utang-eropa.
[9]  Ali Muhammad dalam penjelasan di mata kuliah Politik Uni Eropa semester 3.
[10] Newswire. KRISIS EROPA: Euro Belum Beranjak Dari Zona Merah. http://www.bisnis.com/articles/krisis-eropa-euro-belum-beranjak-dari-zona-merah.
[11] ….., Teori Domino dan Gelombang Demokratisasi . http://www.justishaq.com/?p=255.
[12] Rizky Musafir, Faktor-Faktor Penghambat Uni Eropa Dalam Usaha Perbaikan Ekonomi dan Politik di Yunani., Resume Skripsi  Jurusan Ilmu HI Fisipol UPN Veteran Yogyakarta, 2011, hal. 4.
[13] William Dunn, “Pengantar Analisis Kebijakan Publik,” 1998, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hal. 24
[14]  Rizky Musafir, Op.Cit.., Hal. 26.
[15]  Ahmad Nurullah dan Jusman Dalle. Arah Baru Bank Dunia. http://www.jurnas.com/halaman/10/2012-04-24/206736

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar