Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
X-NONE
Jika biasanya orang-orang
mengidentikkan Yogyakarta (Jogja) sebagai kota gudeg atau kota bakpia, serta
penghasil perak yang mengangkat Kecamatan Kota Gede sebagai ikonnya, maka kini Jogja
dapat dikatakan menjadi salah satu penghasil “emas” di Jawa, bahkan di
Indonesia menyaingi Pertambangan Freeport
di Papua. Tepatnya di Dusun
Karang Rejek, Kecamatan Imogiri,
Bantul DI Yogyakarta. Masyarakat khususnya ibu-ibu didampingi
5 mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memanfaatkan
kepompong ulat sutra emas liar menjadi pernak-pernik bernilai ekonomis.
Awal pemanfaatan kepompong ulat
sutra emas liar yang masyarakat sekitar sebut dengan nama kokon adalah karena
banyaknya pertumbuhan ulat tersebut. Dibarengi dengan dorongan pengabdian dan
kreatifitas yang muncul dari kelompok mahasiswa yang terdiri dari Rahmi Dewi
Aryani (Dewi), Endang Jum’ati (endang), Sony Novrizal (Sony), Said Hamzali
(Said), dan Ricky maulana (Ricky).
Melihat potensi besar yang
dimiliki wilayah Karang Rejek yang dulunya dikenal sebagai desa pengemis, Dewi
bersama kawan-kawan mendekati warga dan menawarkan tenaga mereka untuk mendampingi
dalam mengolah kokon ulat sutra emas liar tersebut. Beberapa upaya dilakukan
demi mengembangkan potensi itu, salah satunya dengan mengajukan ide pengolahan
kokon ulat sutra...
